حيات الدنيا حيات قليلة فلا تلغ حياة أبدية

Sabtu, 23 Februari 2013

DI MANAKAH ALLAH ???


Sebelumnya penulis minta maaf kepada semua pembaca, kali ini penulis sengaja mengangkat tema yang sudah menjadi perdebatan klasik yang tak pernah berkesudahan (atau mungkin sudah dianggap basi) dan bukannya hendak memperkeruh keadaan namun semata ingin berbagi ilmu agar nantinya kita sendiri yang bisa memberi kesimpulan.

Dengan catatan: duduk dengan tenang, perbanyak ta’awwudz dan istighfar, taruhlah sejenak kefanatikan yang berlebih, kaji dan tela’ah secara menyeluruh. Dan jika kita termasuk Muslim yang berfikir maka insyaallah mampu menarik kesimpulan tanpa harus menyalahkan yang lain dan merasa paling benar.
Agar fair, penulis sajikan semua pendapat yang berkenaan dengan masalah ini, baik pendapat yang mengatakan bahwa Allah ada tanpa arah dan tempat maupun pendapat yang mengatakan bahwa Allah istawa 'alal 'arsy. Sekali lagi; agar tidak terjadi kekeliruan presepsi, bacalah secara menyeluruh dengan hati yang tenang dan pikiran yang ilmiyah:
  1. Allah Ada Tanpa Arah dan Tempat.
  2. Allah Istawa ‘Alal ‘Arsy.
  3. Allah itu dekat.
  4. Kesimpulan Penulis.

Sebelum kita membahas ke permasalahan inti, tidak ada kelirunya bila kita tahu dan paham mengenai ilmu tauhid.

Ilmu Tauhid adalah "Sesuatu ilmu yang karenanya ada kemampuan untuk mengkokohkan aqidah-aqidah yang pasti."[1]
Ilmu Tauhid adalah ilmu yang sangat penting bagi setiap muslim, sebab ilmu itu menyangkut aqidah yang berkaitan dengan Islam. Sedangkan aqidah merupakan pondasi bagi keber-agama-an seseorang dan benteng yang kokoh untuk memelihara aqidah Muslim dari setiap ancaman keraguan dan kesesatan. Kita sering kali mendengar berbagai penyimpangan dalam berfikir, berkata dan bertindak. Hal itu terjadi karena jauhnya pemahaman yang benar tentang dasar-dasar aqidah Islam dan masalah-masalah keimanan. Maaf, bukan berarti penulis merasa lebih pintar ataupun merasa paling benar dari pembaca. Penulis juga perlu belajar terus untuk memperkaya keilmuan semata untuk diamalkan serta mencari Ridha Allah . Langsung saja ke pokok pemasalahan, yang pertama:


رَبُّ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَما بَيْنَهُما فَاعْبُدْهُ وَ اصْطَبِرْ لِعِبادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا َ


Tuhan bagi semua langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; maka sembahlah Dia nya dan berteguh hatilah di dalam beribadat kepadaNya. Apakah engkau mengetahui bahwa bagiNya ada yang menyamai? (QS. Maryam: 65)

Sesungguhnya keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat adalah aqidah Nabi Muhammad , para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka . Mereka dikenal dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah; kelompok mayoritas ummat yang merupakan al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat).

Dalil atas keyakinan tersebut selain ayat di atas adalah firman Allah:


( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ ) (سورة الشورى: 11)


“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (QS. as-Syura: 11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al-Qur'an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi kepada dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al-Jawhar al-Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jism). Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam;

  1. Benda Lathif; benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.
  2. Benda Katsif; benda yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.

Sedangkan sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al-Jawhar al-Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: "كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىءٌ غَيْـرُهُ" (رواه البخاري والبيهقي وابن الجارود)


Rasulullah bersabda: “Allah ada pada azal (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya.” (H.R. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud)

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, 'arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Sebagaimana ditegaskan juga oleh sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib :

"كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَانَ وَهُوَ اْلآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ"

"Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat."[2]

Al-Imam al-Bayhaqi (w 458 H) dalam kitabnya al-Asma Wa ash-Shifat, hlm. 506, berkata:

"Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah :

قالَ رَسُوْلُ الله: "أنْتَ الظّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىءٌ وَأنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَىءٌ"


"Engkau Ya Allah adh-Dhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya). [Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat.]"

Al-Imam as-Sajjad Zain al-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) berkata:

أنْتَ اللهُ الّذِيْ لاَ يَحْوِيْكَ مَكَانٌ" (رواه الحافظ الزبيدي


"Engkaulah ya Allah yang tidak diliputi oleh tempat".[3]

Adapun ketika seseorang menghadapkan kedua telapak tangan ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka'bah, hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka'bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini telah dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah seperti al-Imam al-Mutawalli (w 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, al-Imam al-Ghazali (w 505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulumiddin, al-Imam an-Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, al-Imam Taqiyyuddin as-Subki (w 756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil, dan masih banyak lagi.


Al-Imam Abu Ja'far ath-Thahawi -Semoga Allah meridlainya- (w 321 H) berkata:

"تَعَالَـى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأرْكَانِ وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ"


"Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang); tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut."

Perkataan al-Imam Abu Ja'far ath-Thahawi ini merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan ulama Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasannya bukanlah maksud dari Mi'raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad naik ke arah sana untuk bertemu dengan-Nya. Melainkan maksud Mi'raj adalah untuk memuliakan Rasulullah dan memperlihatkan kepadanya keajaiban-keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur'an surat al-Isra ayat 1.

Dengan demikian tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di satu tempat, atau disemua tempat, atau ada di mana-mana. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari (w 324 H) -Semoga Allah meridlainya- berkata:

"إنَّ اللهَ لاَ مَكَانَ لَهُ " (رواه البيهقي في الأسماء والصفات)


"Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat" (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma Wa ash-Shifat).

Al-Imam al-Asy’ari juga berkata: "Tidak boleh dikatakan bahwa Allah di satu tempat atau di semua tempat". Perkataan al-Imam al-Asy'ari ini dinukil oleh al-Imam Ibn Furak (w 406 H) dalam kitab al-Mujarrad. Syekh Abd al-Wahhab asy-Sya'rani (w 973 H) dalam kitab al-Yawaqit Wa al-Jawahir menukil perkataan Syekh Ali al-Khawwash: "Tidak boleh dikatakan Allah ada di mana-mana". Maka aqidah yang wajib diyakini adalah bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.

Perkataan al-Imam ath-Thahawi di atas juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al-Wujud; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-makhluk-Nya, juga sebagai bantahan atas pengikut paham Hulul; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah menempati sebagian makhluk-Nya. Dua keyakinan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma' (konsensus) seluruh orang Islam sebagaimana dikatakan oleh al-Imam as-Suyuthi (w 911 H) dalam kitab al-Hawi Li al-Fatawi, dan Imam lainnya. Para Imam panutan kita dari ahli tasawuf sejati seperti al-Imam al-Junaid al-Baghdadi (w 297 H), al-Imam Ahmad ar-Rifa'i (w 578 H), Syekh Abd al-Qadir al-Jailani (w 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati; mereka semua selalu mengingatkan orang-orang Islam dari para pendusta yang menjadikan tarekat dan tasawuf sebagai sebagai wadah untuk meraih dunia, padahal mereka berkeyakinan Wahdah al-Wujud dan Hulul.

Dengan demikian keyakinan ummat Islam dari kalangan Salaf dan Khalaf telah sepakat bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Sementara keyakinan sebagian orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas Arsy, adalah keyakinan sesat. Keyakinan ini adalah penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, karena duduk adalah salah satu sifat manusia. Para ulama Salaf bersepakat bahwa barangsiapa yang menyifati Allah dengan salah satu sifat di antara sifat-sifat manusia maka ia telah kafir, sebagaimana hal ini ditulis oleh al-Imam al-Muhaddits as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (w 321 H) dalam kitab aqidahnya yang terkenal dengan nama “al-‘Aqidah ath-Thahwiyyah”. Beliau berkata:

" وَمَنْ وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِي اْلبَشَرِ فَقَدْ كَفَر "


"Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir.”

Padahal telah diketahui bahwa beribadah kepada Allah hanya sah dilakukan oleh orang yang meyakini adanya Allah dan tidak menyerupakan-Nya dengan sesuatu apapun dari makhluk-Nya. Al-Imam al-Ghazali berkata:

"لاَ تَصِحُّ اْلعِبَادَةُ إلاّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ"


Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (Allah) yang wajib disembah.”

Hal itu karena beriman kepada Allah dengan benar adalah syarat diterimanya amal saleh seseorang, tanpa beriman kepada Allah dengan benar maka segala bentuk amal saleh tidak akan diterima oleh Allah .

Makna Istawa


Kesalahan memaknai kata “Fawq” dan “Al-‘Alyy” pada Hak Allah


Kata “fawq” dalam makna zhahir berarti “di atas”. Dalam penggunaannya, kata fawq ini tidak hanya untuk mengungkapkan tempat dan arah atau makna indrawi, tapi juga biasa dipakai dalam penggunaan secara maknawi; yaitu untuk mengungkapkan keagungan, kekuasaan dan ketinggian derajat. Kata fawq dengan dinisbatkan kepada Allah disebutkan dalam al-Qur’an dalam beberapa ayat, itu semua wajib kita yakini bahwa makna-maknanya bukan dalam pengertian tempat dan arah, di antaranya firman Allah :


وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ (الأنعام:18)

Pengertian fawq dalam ayat ini ialah bahwa Dia Allah yang maha menundukan dan maha menguasai para hamba-Nya. Kata fawq dalam ayat ini bukan untuk mengungkapkan bahwa Allah berada di arah atas dari hamba-hamba-Nya.

Al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa makna ini; yaitu makna menguasai dan menundukan serta ketinggian derajat, adalah makna yang dimaksud dari salah salah satu sifat Allah; al-‘Uluww. Dan inilah makna yang dimaksud dari firman Allah : “Sabbihisma Rabbik al-‘Ala” (QS. Al-A’la: 1), dan firman-Nya: “Wa Huwa al-‘Alyy al-‘Azhim” (QS al-Baqarah: 255). Karena makna al-‘Uluww dalam pengertian indrawi, yaitu tempat atau arah atas hanya berlaku pada makhluk saja yang notabene sebagai benda yang memiliki bentuk dan ukuran, tentunya hal itu adalah suatu yang mustahil bagi Allah . Dalam hal ini Ibn Hajar menuliskan sebagai berikut: “Sesungguhnya mensifati Allah dengan sifat al-‘Uluww adalah dalam pengertian maknawi, karena mustahil memaknai al-‘Uluww (pada hak Allah) dalam pengertian indrawi. Inilah pengertian sifat-sifat Allah al-‘Aali, al-‘Alyy, dan al-Muta’ali.

Pada halaman lain dalam kitab yang sama, al-Hâfizh Ibn Hajar menuliskan alasan mengapa para ulama sangat keras mengingkari penisbatan arah bagi Allah , adalah tidak lain karena hal itu sama saja dengan menetapkan tempat bagi-Nya. Dan sesungguhnya Allah mustahil membutuhkan kepada tempat, karena Dia bukan benda yang memiliki bentuk dan ukuran, dan Dia tidak boleh disifati dengan sifat-sifat benda.[4]

Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybîh, dalam penjelasan firman Allah : “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), menuliskan sebagai berikut: “Penggunaan kata fawq biasa dipakai dalam mengungkapkan ketinggian derajat. Seperti dalam bahasa Arab bila dikatakan:“Fulan Fawqa Fulan”, maka artinya si fulan yang pertama (A) lebih tinggi derajatnya di atas si fulan yang kedua (B), bukan artinya si fulan yang pertama berada di atas pundak si fulan yang kedua. Kemudian, firman Allah dalam ayat tersebut menyebutkan “Fawqa ‘Ibadih”, artinya, sangat jelas bahwa makna yang dimaksud bukan dalam pengertian arah. Karena bila dalam pengertian arah, maka berarti Allah itu banyak di atas hamba-hamba-Nya, karena ungkapan dalam ayat tersebut adalah “’Ibadih” (dengan mempergunakan kata jamak).“[5]

Al-Imâm Badruddin ibn Jama’ah dalam Idlah ad-Dalil menuliskan sebagai berikut:

Allah berfirman: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), dan berfirman tentang para Malaikat: “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Ketahuilah bahwa penggunaan kata fawq dalam bahasa Arab terkadang dipergunakan untuk mengungkapkan tempat yang tinggi, terkadang juga dipergunakan untuk mengungkapkan kekuasaan, juga untuk mengungkapkan derajat yang tinggi. Contoh untuk mengungkapkan kekuasaan, firman Allah : “Yadullah Fawqa Aidihim” (QS. Al-Fath: 10), dan firman-Nya: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18). Pemahaman fawq dalam dua ayat ini adalah untuk mengugkapkan kekuasaan. Contoh untuk mengungkapkan ketinggian derajat, firman Allah : “Wa Fawqa Kulli Dzi ‘Ilmin ‘Alim” (QS. Yusuf: 76). Tidak ada seorangpun yang memahami makna fawq dalam ayat ini dalam pengertian tempat, karena sangat jelas bahwa yang dimaksud adalah ketinggian kekuasaan dan kedudukan.

Telah di jelaskan di atas bahwa adanya tempat dan arah bagi Allah adalah sesuatu batil, maka dengan demikian menjadi jelas pula bagi kita bahwa pemaknaan fawq pada hak Allah pasti dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan-Nya. Karena itu dalam penggunaanya dalam ayat QS. Al-An’am: 18 di atas bersamaan dengan al-Qahhar; salah satu nama Allah yang berarti maha menguasai dan maha menundukan. Kemudian dari pada itu, penggunaan kata fawq jika yang dimaksud pegertian tempat dan arah maka sama sekali tidak memberikan indikasi kemuliaan dan keistimewaan. Karena sangat banyak pembantu atau hamba sahaya yang bertempat tinggal di atas atau lebih tinggi dari tempat tuannya, -apakah itu menunjukan bahwa pembantu dan hamba sahaya tersebut lebih mulia dari majikannya sendiri?!- Karenanya, bila dikatakan dalam bahasa Arab: “al-Ghulam Fawq as-Sulthan” atau “al-Ghulam Fawq as-Sayyid”, maka tujuannya bukan untuk pujian, tetapi yang dimaksud adalah untuk menyatakan tempat dan arah. Adapun penggunaan kata fawq untuk tujuan pujian maka makna yang dituju adalah dalam pengertian menguasai, menundukan, dan ketinggian derajat. Dan pengertian inilah yang dimaksud dengan ayat “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim.”(QS. An-Nahl: 50). Karena sesungguhnya seorang itu merasa takut terhadap yang memiliki derajat dan keagungan lebih tinggi darinya.”[6]


Inilah pengertian fawq pada hak Allah , yaitu bukan dalam pengertian tempat dan arah, tapi dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan-Nya. Pemaknaan inilah yang telah disepakati oleh para ulama ahli tafsir, seperti al-Imâm al-Qurthubi, dan lainnya.[7]

Al-Imâm Ibn Jahbal dalam Risalah Fi Nafy al-Jihah ‘An Allah menuliskan sebagai berikut:

Penggunaan kata fawq dikembalikan kepada dua pengertian.
Pertama; Fawq dalam pengertian tempat bagi suatu benda yang berada di atas benda lainnya. Artinya posisi benda yang pertama berada di arah kepala posisi benda yang kedua. Pemaknaan semacam ini tidak akan pernah dinyatakan bagi Allah kecuali oleh seorang yang berkeyakinan tasybîh dan tajsîm.
Kedua; Fawq dalam pengertian ketinggian derajat dan kedudukan. Contoh, bila dikatakan dalam bahasa Arab: “al-Khalifah Fawq as-Sulthan Wa as-Sulthan Fawq al-Amir”, maka artinya: “Khalifah lebih tinggi kedudukannya di atas raja, dan raja lebih tinggi kedudukannya di atas panglima”, atau bila dikatakan: “Jalasa Fulan Fawq Fulan”, maka artinya: “Si fulan yang pertama kedudukannya di atas si fulan yang kedua”, atau bila dikatakan: “al-‘Ilmu Fawq al-‘Amal” maka artinya: “Ilmu kedudukannya di atas amal”. Contoh makna ini dalam firman Allah: “Wa Rafa’na Ba’dlahum Fawqa Ba’dlin Darajat” (QS. Az-Zukhruf: 32), artinya Allah meninggikan derajat dan kedudukan sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain. Makna ayat ini sama sekali bukan dalam pengertian Allah menjadikan sebagian makhluk-Nya berada di atas pundak sebagian yang lain. Contoh lainnya firman Allah tentang perkataan para pengikut Fir’aun: “Wa Inna Fawqahum Qahirun” (QS. Al-A’raf: 127). Yang dimaksud ayat ini adalah bahwa para pengikut yang setia kepada Fir’aun -merasa- menguasai dan lebih tinggi kedudukannya di atas Bani Isra’il. Makna ayat ini sama sekali bukan berarti para pengikut Fir’aun tersebut berada di atas pundak-pundak atau di atas punggung-punggung Bani Isra’il.”[8]

Al-Imâm al-Hâfizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an menuliskan tentang pemahaman fawq pada hak Allah, sebagai berikut:

“...antara lain sifat fawqiyyah, seperti dalam firman-Nya: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), dan firman-Nya: “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Makna fawq dalam ayat ini bukan dalam pengertian arah atas. Makna fawq dalam ayat tersebut sama dengan makna fawq dalam firman Allah yang lain tentang perkataan Fir’aun: “Wa Inna Fawqahum Qahirun” (QS. Al-A’raf: 127), bahwa pengertiannya bukan berarti Fir’aun berada di atas pundak Bani Isra’il, tapi dalam pengertian ia menguasai Bani Isra’il.”

Salah seorang ulama bahasa yang sangat terkenal, az-Zujaji, dalam kitab Isytiqaq Isma’ Allah al-Husna menuliskan bahwa makna al-‘Alyy dan al-‘Aali pada hak Allah adalah yang menguasai dan menundukan segala sesuatu.

Al-Imâm Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitab Tafsir al-Asma Wa ash-Shifat menuliskan sebagai berikut:

“Makna ke tiga; bahwa pengertian al-‘uluww adalah al-Ghalabah (menguasai dan menundukan), seperti dalam firman Allah: “Wa Antum al-A’lawna...” (QS. Ali ‘Imran: 139), artinya: Kalian dapat menguasai dan menundukan musuh-musuh kalian. Contoh lainnya, seperti bila dikatakan dalam bahasa Arab: “’Alawtu Qarni...”, artinya: Saya telah menguasai teman-teman sebaya saya. Contoh lainnya, firman Allah: “Inna Fir’auna ‘Ala Fi al-Ardl” (QS. Al-Qashash: 4), artinya: Fir’aun seorang yang berkuasa, sombong, dan durhaka. Contoh lainnya, firman Allah: “Wa an La Ta’lu ‘Alallah” (QS. Ad-Dukhan 19), artinya: Janganlah kalian sombong atas Allah. Contoh lainnya, firman Allah tentang perkataan Nabi Sulaiman: “Alla Ta’lu ‘Alayya Wa’tuni Muslimin” (QS. An-Naml: 31), artinya: Janganlah kalian sombong atasku dan datanglah kalian kepadaku dalam keadaan Islam.

Demikian pula nama Allah al-‘Alyy diambil dari kata al-‘uluww dalam pengertian bahwa Allah maha tinggi atau maha agung pada derajat-Nya di atas segala apapun, artinya tidak ada apapun yang lebih agung dari pada Allah . Pengertian al-‘Alyy di sini bukan berarti Allah berada di arah atas, karena Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah.”

Al-Imâm al-Hâfizh al-Bayhaqi dalam al-Asma’ Wa ash-Shifat menuliskan sebagai berikut:
“Allah berfirman: “al-Kabir al-Muta’al” (QS. Ar-Ra’ad: 9). Telah diriwayatkan kepada kami dalam hadits tentang nama-nama Allah; telah berkata al-Halimi: Pengertian ayat di atas ialah bahwa Allah Maha Suci dari segala apa yang ada pada makhluk-makhluk-Nya, seperti memiliki istri, anak, anggota badan -baik yang besar maupun anggota yang kecil-, mengambil ranjang -atau tempat- untuk duduk di atasnya, bersembunyi di balik tirai supaya tidak terlihat, pindah dari satu tempat ke tampat lain, dan lain sebagainya. Karena sifat-sifat semacam ini sebagiannya menetapkan adanya bentuk dan penghabisan, sebagian lainnya menetapkan adanya kebutuhan kepada yang lain, dan sebagian lainnya menetapkan adanya perubahan. Sedikitpun sifat-sifat semacam demikian itu sangat tidak layak bagi Allah dan mustahil atas-Nya.”

Al-Imâm al-Qâdlî Badruddin ibn Jama’ah dalam Idlah ad-Dalil dalam menjelaskan firman Allah : “Wa Huwa al-‘Alyy al-‘Azhim” (QS. Al-Baqarah: 255), firman Allah : “Sabbihisma Rabbik al-A’la” (QS. Al-A’la: 1), dan firman Allah: “Wa Huwa al-‘Alyy al-Kabir” (QS. Saba’: 23), menuliskan bahwa makna-makna itu semua penjelasannya adalah dalam pemahaman ketinggian derajat, keagungan, dan kekuasaan-Nya, bukan dalam pengertian arah atau tempat yang tinggi. Kita semua sepakat dalam memahami makna-makna dari beberapa ayat tentang “Ma’iyyah Allah”, seperti dalam firman-Nya: “Wa Huwa Ma’aku Ainama Kuntun” (QS. Al-Hadid: 4), dan firman-Nya: “Inn Allah Ma’a al-Ladzinattaqau...” (QS. An-Nahl: 128), bahwa makna “Ma’a” dalam ayat-ayat semacam ini bukan dalam pengertian Dzat Allah menyertai setiap makhluk-Nya. Artinya, bahwa ayat-ayat ini tidak boleh dipahami secara zhahir (literal). Demikian pula dalam memahami makna al-‘Alyy, al-‘Aali, atau al-Muta’ali pada hak Allah, itu semua tidak boleh dipahami dalam makna dhahirnya. Banyak dalil yang menunjukan kepada pemahaman makna semacam di sini, di antaranya firman Allah: “Wa Antum al-A’lawna...” (QS. Ali ‘Imran: 139), juga firman Allah tentang Nabi Musa “La Takhaf Innaka Anta al-A’la” (QS. Thaha: 68), serta firman Allah: “Wa Kalimatullah Hiya al-‘Ulya” (QS. At-Taubah: 40). Ayat-ayat ini semua sama sekali bukan untuk menunjukan tempat dan arah atas, tapi yang dimaksud adalah ketinggian kedudukan dan martabat.[9]

Ahli tafsir terkemuka, al-Imâm al-Qurthubi dalam tafsirnya dalam penjelasan makna firman Allah : “Wa Annallaha Huwa al-‘Alyy al-Kabir” (QS. Al-Hajj: 62), menuliskan sebagai berikut:

Al-‘Alyy artinya bahwa Allah maha menguasai atas segala sesuatu, Dia Maha Suci dari segala keserupaan dan penentang, dan Maha Suci dari segala pernyataan orang-orang kafir yang mensifati-Nya dengan sifat-sifat yang tidak sesuai bagi keagungan-Nya. Al-Kabir artinya bahwa Dia Allah yang maha agung dan maha besar dalam derajatnya, (bukan dalam makna bentuk). Menurut pendapat lain, makna al-Kabir adalah bahwa Dia Allah yang memiliki segala kesempurnaan. Artinya bahwa wujud Allah itu mutlak; Dia ada tanpa permulaan (al-Qadim al-Azali) dan tanpa penghabisan (al-Baqi al-Abadi).”[10]

Al-Imâm Abu al-Qasim al-Anshari an-Naisaburi dalam kitab Syarh al-Irsyad (al-Irsyad, kitab teologi Ahlussunnah karya Imam al-Haramain) menuliskan pasal khusus dalam penjelasan makna-makna tentang ini semua. Simak tulisan beliau berikut ini:

“Pasal; Tentang makna al-‘Azhamah, al-‘Uluww, al-Kibriya’ dan al-Fawqiyyah. Seluruh orang Islam telah sepakat bahwa Allah maha agung. Dia lebih agung dari segala sesuatu yang agung. Dan makna al-‘Azhamah, al-‘Uluww, al-Izzah, ar-Rif’ah, dan al-Fawqiyyah -dengan dinisbatkan kepada Allah -, semuanya satu pengertian. Yaitu bahwa Dia Allah maha memiliki segala sifat kesempurnaan dan segala sifat kesucian. Artinya bahwa Allah maha suci dari menyerupai makhluk-Nya, maha suci dari memiliki sifat-sifat benda, suci dari kebutuhan, suci dari kekurangan. Dan hanya Dia Allah yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, seperti sifat Qudrah (kuasa) yang mencakup atas segala sesuatu -yang ja’iz ‘aqli-, sifat Iradah (kehendak) yang akan terlaksana bagi segala sesuatu yang ia kehendaki-Nya, sifat ‘Ilm (mengetahui) yang mencakup atas segala sesuatu dari makhluk-Nya, maha memiliki sifat al-Jud dan sifat ar-Rahmah, maha pemberi segala kenikmatan, maha memiliki sifat as-Sama’, al-Bashar, al-Qaul al-Qadim (sifat kalam yang bukan berupa huruf, suara dan bahasa), dan maha kekal.”

Keyakinan ini juga dipegang teguh oleh para masyayikh al-Azhar Cairo Mesir, antar generasi ke generasi hingga sekarang ini. Hanya beberapa gelintir oknum saja yang terkena faham tasybîh, dan itupun terjadi belakangan ini. Kita dapat pastikan bahwa pemegang tumpuk keilmuan di al-Azhar, atau yang dikenal dengan gelah syaikh al-Azhar, dari generasi ke generasi di dalam akidah mereka semua memiliki faham Ahlussunnah Wal Jama’ah di atas rintisan madzhab al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari. Para masyaikh al-Azhar sepakat bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Di antara bukti atas itu, majalah al-Azhar yang diterbitkan oleh para ulama al-Azhar sendiri, pada edisi Muharram tahun 1357 H dalam pembahasan tafsir surat al-A’la, menuslikan sebagai berikut:

Al-A’la adalah salah satu sifat Allah . Yang dimaksud dengan al-‘uluww dalam hal ini adalah dalam pengertian keagungan, menguasai, dan ketinggian derajat, bukan dalam pengertian arah dan tempat, karena Allah maha suci dari arah dan tempat.”

Kemudian pada halaman berikutnya dalam majalah al-Azhar pada edisi yang sama dituliskan sebagai berikut:

“Ketahuilah bahwa para ulama Salaf telah sepakat bahwa al-‘Uluww pada hak Allah mustahil maknanya dalam pengertian tempat yang berada di arah atas. Hal ini berbeda dengan faham sebagian orang dan semoga tidak membuatnya sesat, yang sama sekali tidak memiliki pegangan dalam permasalahan ini. Padahal sesungguhnya seluruh ulama, maupun ulama Salaf maupun ulama Khalaf, sepakat bahwa Allah maha suci dari menyerupai makhluk-Nya.”

(Masalah): Sebagian orang-orang Musyabbihah, berpendapat bahwa arah bawah tidak boleh dinyatakan kepada Allah karena hal itu dapat menunjukan kekurangan bagi-Nya. Menurut mereka, hanya arah atas saja yang boleh dinyatakan bagi Allah , karena arah ini memberikan kemuliaan bagi-Nya, dan arah ini adalah arah yang terbaik dari semua arah lainnya.

(Jawab): Kita katakan: Arah atas adalah ciptaan Allah , dan Allah sama sekali tidak menjadi mulia karena ciptaan-Nya sendiri. Pada dasarnya, semua arah; baik atas, bawah, depan, belakang, samping kanan, maupun samping kiri, tidak memberikan unsur kemuliaan. Karena yang menjadi tolak ukur dalam hal ini bukan dari segi ketinggian tempat dan arah, tapi dari segi ketinggian derajat dan keagungan. Anda perhatikan, tidak sedikit orang yang mulia dari segi kedudukan dan derajatnya, namun tempat mereka berada di arah bawah dari orang-orang yang dari segi kedudukan dan derajatnya jauh di bawah mereka sendiri. Contohnya seperti para penguasa atau raja, mereka berada di arah bawah, sementara penjaga mereka berada di arah atas mereka. Apakah kemudian para penjaga itu lebih tinggi kedudukannya di banding tuan-tuan mereka sendiri?

Kemudian para Nabi Allah, tempat mereka semua adalah di bumi ini, dan tempat mereka di akhirat nanti adalah di surga. Para Nabi tersebut dari segi kedudukan dan derajatnya berada di atas para Malaikat yang mengelilingi arsy. Artinya, dari segi arah dan tempat, para Malaikat tersebut jauh berada di atas para Nabi, karena arsy sendiri sebagai langit-langit bagi surga. Adakah karena perbedaan tempat ini kemudian menjadi terbalik, bahwa para Malaikat Allah lebih mulia kedudukan dan derajatnya di banding para Nabi Allah?! Bila ada orang yang memiliki argumen semacam ini maka sebenarnya logika dialah yang terbalik.

Dengan demikian, arah atas sama sekali tidak bisa dijadikan dalil sebagai arah yang paling mulia di antara arah-arah yang lainnya. Al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi dalam karyanya, Kitab at-Tauhid mengatakan: “Sesungguhnya mensifati dengan ketinggian tempat dan arah untuk dijadikan tempat duduk atau berdiri pada tempat tersebut sama sekali tidak memberikan indikasi kemuliaan, keagungan, dan sama sekali tidak memberikan sifat keagungan dan kesempurnaan.”

Kemudian, seorang yang menisbatkan arah atau tempat bagi Allah tidak lepas dari dua kesesatan. Artinya, secara pasti orang tersebut jatuh dalam salah satu dari dua kesesatan ini, jika tidak dalam dua-duanya.

Pertama; Orang yang menetapkan tempat bagi Allah sama saja dengan menetapkan bahwa tempat adalah sesuatu yang azali dan qadim; ada tanpa permulaan bersama Allah . Keyakinan semacam ini jelas merupakan keyakinan syirik dan kufur, karena menetapkan adanya sesuatu yang azali kepada selain Allah . Padahal dalam banyak ayat al-Qur’an Allah berfirman bahwa Dia adalah pencipta segala sesuatu, seperti firman-Nya: “Allahu Khaliqu Kulli Syai’” (QS. Ar-Ra’ad: 16), artinya Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Dengan demikian, alam, yaitu segala sesuatu selain Allah, apapun ia, termasuk tempat dan arah, semua itu adalah ciptaan Allah. Kemudian dalam banyak hadits, Rasulullah telah menyatakan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah baru, artinya segala sesuatu selain Allah adalah makhluk Allah, di antaranya sabda Rasulullah riwayat al-Imâm al-Bukhari: “Kanallah Wa Lam Yakun Syai’ Gharuh”, artinya; Allah ada tanpa permulaan, Dia ada sebelum segala sesuatu ada. Dia ada sebelum menciptakan langit, bumi, arsy, angin, cahaya, kegelapan, tempat, arah, dan lain sebagainya. Dialah pencipta segala sesuatu.

Kedua; Orang yang menetapkan adanya tempat atau arah bagi Allah sama juga dengan mengatakan bahwa Allah baru. Artinya dalam keyakinan orang ini, sebelum Allah menciptakan tempat dan arah Dia ada tanpa tempat dan arah, namun setelah Dia menciptakan arah dan tempat Dia berubah menjadi membutuhkan kepada keduanya. Keyakinan seperti ini nyata sebagai keyakinan kufur. Orang semacam ini tidak dapat membedakan antara al-Khaliq dan al-makhluq, ia menjadikan al-Khaliq dan al-makhluq tersebut dengan sifat yang sama. Bagaimana mungkin ia dapat dikatakan ahli tauhid?! Dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Huwa al-Awwal Wa al-Akhir” (QS. Al-Hadid: 3). Artinya, hanya Allah al-Awwal; yang tidak memiliki permulaan, dan hanya Allah al-Akhir; yang tidak memiliki penghabisan.

Kemudian, dalam sebuah riwayat disebutkan tentang penafsiran al-Imâm Mujahid, murid sahabat Abdullah ibn Abbas terhadap firman Allah : “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa” (QS. Thaha: 5), beliau mengatakan “Istawa” artinya “’Ala”. Kita wajib meyakini penafsiran al-Imâm Mujahid ini dalam pengertian ‘Uluww al-Qadr Wa ad-Darajah, artinya ketinggian kedudukan dan derajat. Ini sesuai dengan firman Allah sendiri: “Rafi’ ad-Darajat...” (QS. Ghafir: 15), artinya bahwa Dia Allah yang maha tinggi derajat dan keagungan-Nya.

Penafsiran al-Imâm Mujahid; “’Ala” tidak boleh dipahami dalam pengertian indrawi (Hissy) bahwa Allah bertempat atau bersemayam di atas arsy. Karena pemahaman semacam ini adalah penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, yaitu, menyerupakan-Nya dengan kitab bertuliskan “Inna Rahmati Sabaqat Ghadlabi” yang berada di atas arsy. Demikian pula, jika dipahami secara indrawi sama saja dengan menyerupakan Allah dengan al-Lauh al-Mahfuzh, karena sebagian ulama menyatakan bahwa tempat al-Lauh al-Mahfuzh ini berada di atas arsy.

Ahli tafsir terkemuka di kalangan Ahlussunnah, al-Imâm al-Mufassir Muhammad ibn Ahmad al-Anshari al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya yang sangat terkenal; al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, menuliskan sebagai berikut:

“Nama Allah “al-‘Aliyy” adalah dalam pengertian ketinggian derajat dan kedudukan bukan dalam pengertian ketinggian tempat, karena Allah maha suci dari bertempat.”[11]

Pada bagian lain dalam kitab yang sama al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

“Makna Firman-Nya: “Fawqa ‘Ibadih...” (QS. al-An’am: 18), adalah dalam pengertian fawqiyyah al-Istila’ bi al-Qahr wa al-ghalabah; artinya bahwa para hamba berada dalam kekuasaan-Nya, bukan dalam pengertian fawqiyyah al-makan, (bukan dalam makna bertempat di atas).”[12]

Masih dalam kitabnya yang sama al-Imâm al-Qurthubi juga menuliskan sebagai berikut:

“Kaedah (yang harus kita pegang teguh): Allah maha suci dari gerak, berpindah-pindah, dan maha suci dari berada pada tempat.”[13]

Kemudian dalam menafsirkan firman Allah :


أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِي بَعْضُ ءَايَاتِ رَبِّكَ (الأنعام: 158)


Al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

Yang dimaksud dengan al-Maji’ pada hak Allah adalah adalah bukan dalam pengertian gerak, bukan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, bukan pula dalam pengertian condong. Karena sifat-sifat seperti demikian itu hanya terjadi pada sesuatu yang merupakan Jism (tubuh) atau Jauhar (benda).”[14]

Pada bagian lain firman Allah tentang Nabi Yunus:


وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لآإِلَهَ إِلآ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (الأنبياء: 87)


Al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

“Abu al-Ma’ali berkata: Sabda Rasulullah berbunyi:


لاَ تُفَضِّلُوْنِي عَلَى يُوْنُس بْنِ مَتّى


Memberikan pemahaman bahwa saya (Nabi Muhammad ) yang diangkat hingga ke Sidrah al-Muntaha tidak boleh dikatakan lebih dekat kepada Allah dibanding Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan besar yang kemudian dibawa hingga ke kedalaman lautan. Ini menunjukan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.”[15]

Kemudian dalam menafsirkan firman Allah :


وَجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا (الفجر: 22)


Al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

“Allah yang maha agung tidak boleh disifati dengan perubahan atau berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dan mustahil Dia disifati dengan sifat berubah atau berpindah. Karena Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah, dan tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Karena sesuatu yang terikat oleh waktu itu adalah sesuatu yang lemah dan makhluk.”[16]

Kemudian dalam menafsirkan firman Allah:


ءَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَآءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ اْلأَرْضَ (الملك :16)


Al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

“Yang dimaksud oleh ayat ini adalah keagungan Allah dan kesucian-Nya dari arah bawah. Dan makna dari sifat Allah al-‘Uluww adalah dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan bukan dalam pengertian tempat-tempat, atau arah-arah, juga bukan dalam pengertian batasan-batasan. Karena sifat-sifat seperti demikian itu adalah sifat-sifat benda (al-ajsam). Adapun bahwa kita mengangkat tangan ke arah langit dalam berdoa karena langit adalah tempat turunnya wahyu, tempat turunnya hujan, tempat yang dimuliakan, juga tempat para Malaikat yang suci, serta ke sanalah segala kebaikan para hamba diangkat, hingga ke arah arsy dan ke arah surga, hal ini sebagaimana Allah menjadikan ka’bah sebagai kiblat dalam doa dan shalat kita. Karena sesungguhnya Allah yang menciptakan segala tempat, maka Dia tidak membutuhkan kepada ciptaannya tersebut. Sebelum menciptakan tempat dan zaman, Allah ada tanpa permulaan (Azali), tanpa tempat, dan tanpa zaman. Dan Dia sekarang setelah menciptakan tempat dan zaman tetap ada -sebagaimana sifat Azali-Nya- tanpa tempat dan tanpa zaman.”[17]

والله أعلم بالصواب



Alhamdulillah, kita mensyukuri bahwa ajaran Islam adalah agama yang mudah dipahami, mudah dimengerti dan diamalkan. Rasulullah , para Shahabat, dan para Salafus Shalih menerima agama ini dalam kemudahan, lalu mengamalkannya secara konsisten, sampai akhir hayat.


Namun ketika peradaban Islam mulai bersentuhan dengan dunia Barat yang membawa paham filsafat (ilmu kalam), mulai muncul aneka pertanyaan-pertanyaan rumit. Sesuatu yang semula mudah, menjadi sulit, dan pelik. Tak jarang, banyak manusia tersesat karena fitnah akal yang bersumber dari filsafat itu. Lahirnya kelompok-kelompok teologi seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, Zindiq, ‘Asy'ariyah dan Maturidiyyah ektrem serta lain-lain tidak lepas dari pengaruh benturan antara peradaban iman (Islam) dengan pola pikir filsafat.

Salah satu topik yang layak dibahas ialah seputar “Allah ada di langit”. Topik ini telah membuka perdebatan panjang antara kalangan TATS-BIT (memilih menetapkan Sifat Allah apa adanya), TA’WIL (mengartikan istilah-istilah tertentu ke pengertian lain, dengan niatan menyucikan Allah ), TAF-WIDH (menerima istilah-istilah itu, tetapi menyerahkan maknanya kepada Allah ). Hingga hari ini, perdebatan tersebut belum tuntas. Kalau sering-sering membuka laman blog, diskusi internet dan lain-lain kita akan menyaksikan bahwa perdebatan itu semakin panas dan pelik saja.

Dalam Al Qur’an disebutkan ayat yang jelas:


إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ


“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.” (Al A’raaf: 54).

Ayat-ayat lain yang senada dengan ini, yang menunjukkan bahwa Allah bersemayam di atas Arasy ada 6 ayat lagi, yaitu: Yunus ayat 3, Ar Ra’du ayat 13, Ar Rahman ayat 5, Al Furqan ayat 59, As Sajadah ayat 4, dan Al Hadid ayat 4. Semuanya ada 7 ayat yang senada.

Juga telah dijelaskan dalam beberapa riwayat, Rasulullah bersabda:


أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ


Rasulullah bertanya; "Dimanakah Allah?" Budak wanita tersebut berkata; “Di langit.[18]

Namun, kejelasan ini kemudian dimentahkan, ketika sebagian orang mulai mempertanyakan ayat-ayat dan hadits di atas. Mereka mulai berkata: “Tunggu dulu! Jangan cepat menyimpulkan. Ayat-ayat itu tak menunjukkan bahwa Allah ada di atas langit. Sekarang kami bertanya, Arasy itu apa? Ber-istiwa’ (bersemayam) itu apa? As sama’u (langit) itu apa? Semua ini masih bisa ditafsirkan dengan pengertian tidak seperti yang Anda pikirkan.”

Lebih jauh mereka beralasan, “Allah itu tidak di langit. Allah itu tidak di tempat yang tinggi. Dia tidak berada dalam ruang. Ruang itu adalah makhluk. Mustahil Allah terikat oleh makhluk. Allah tidak berada dalam ruang, tidak berada di luar ruang (sebab “luar ruang” juga makhluk), dan tidak berada di antara keduanya.”

Dari pengertian mudah, bahwa Allah itu bersemayam di atas 'Arsy. Dan Arasy sebagaimana disebutkan para ulama, berada di atas langit tertinggi. Namun karena akal banyak bertanya (seperti sindrom Bani Israil), maka terbuka lebar kesulitan-kesulitan.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Adapun Al-Arsy maka dia berupa kubah sebagimana diriwayatkan dalam kitab As-Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im.”

Disana sebutkan;


أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ جُهِدَتْ الْأَنْفُسُ وَضَاعَتْ الْعِيَالُ وَنُهِكَتْ الْأَمْوَالُ وَهَلَكَتْ الْأَنْعَامُ فَاسْتَسْقِ اللَّهَ لَنَا فَإِنَّا نَسْتَشْفِعُ بِكَ عَلَى اللَّهِ وَنَسْتَشْفِعُ بِاللَّهِ عَلَيْكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيْحَكَ أَتَدْرِي مَا تَقُولُ وَسَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا زَالَ يُسَبِّحُ حَتَّى عُرِفَ ذَلِكَ فِي وُجُوهِ أَصْحَابِهِ ثُمَّ قَالَ وَيْحَكَ إِنَّهُ لَا يُسْتَشْفَعُ بِاللَّهِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ شَأْنُ اللَّهِ أَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ وَيْحَكَ أَتَدْرِي مَا اللَّهُ إِنَّ عَرْشَهُ عَلَى سَمَاوَاتِهِ لَهَكَذَا وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ الْقُبَّةِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَيَئِطُّ بِهِ أَطِيطَ الرَّحْلِ بِالرَّاكِبِ قَالَ ابْنُ بَشَّارٍ فِي حَدِيثِهِ إِنَّ اللَّهَ فَوْقَ عَرْشِهِ وَعَرْشُهُ فَوْقَ سَمَاوَاتِهِ وَسَاقَ الْحَدِيثَ


"Seorang Arab badui mendatangi Rasulullah dan bertanya, "Wahai Rasulullah, jiwa-jiwa telah berat, keluarga telah lemah, harta berkurang, dan binatang ternak telah binasa. Maka mintalah hujan kepada Allah untuk kami, sesungguhnya kami meminta syafaat dengan perantaramu kepada Allah dan dengan perantara Allah kepadamu." Rasulullah lalu bersabda: "Celaka kamu! Tidakkah kamu tahu apa yang telah kamu ucapkan?" Rasulullah kemudian bertasbih kepada Allah, dan beliau masih saja bertasbih hingga (kebencian beliau) bisa diketahui dari wajah para sahabatnya. Kemudian beliau bersabda lagi: "Celaka kamu! Sesungguhnya Allah tidak boleh dijadikan sebagai perantara atas seorang pun dari hamba-Nya, Allah lebih agung dari untuk sekedar dijadikan sebagai wasilah tersebut. Celaka kamu! Tidak tahukah kamu bagaimana Allah itu? Sungguh, Arsy-Nya ada di atas semua langit-Nya seperti ini -lalu isyarat tangannya beliau mengatakan, 'Seperti Kubah, dan Arsy itu berteriak dan menyeru kepada Allah seperti tunggangan berteriak kepada pengendara karena berat-." Ibnu Basysyar menyebutkan dalam haditsnya, "Sesungguhnya Allah berada di atas Arsy, dan Arsy-Nya ada di atas semua langit-Nya…lalu hadits tersebut disebutkan seluruhnya."[19]

Adapun tentang ketinggian Arasy, Rasulullah bersabda:


إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ


“Jika kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.”[20]

Jelas sekali, bahwa Allah itu ada di atas Arasy. Arasy ada di atas langit tertinggi. Bahkan disebutkan, Arasy itu ada di atas air. Di atas Arasy ada Kursyi (sehingga kita mengenal istilah Ayat Kursyi). Allah bersemayam di atas itu semua.

Lalu mengapa semua ini begitu sulit dipahami (terutama oleh kalangan ‘Asy'ariyyin ekstrem)? Mereka beralasan, “Allah tidak di langit, atau di atas Arasy. Sebab semua itu adalah ruang. Ruang adalah makhluk. Allah tidak boleh terikat oleh ruang, sebab itu sama dengan Allah terikat oleh makhluk.”

Letak kesalahan utama orang-orang semacam ini ialah: “Mereka menyifati Allah dengan ciri-ciri makhluk yang membutuhkan tempat, arah, dan ukuran. Andaikan mereka bisa melepaskan diri dari gambaran makhluk, ketika mereka berbicara tentang Sifat-sifat Allah , maka hal itu akan menyelesaikan masalah ini.” simple kan…?

Contoh, dalam hadits shahih disebutkan:


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ


Bahwa Rasulullah bersabda: "Rabb kita Tabaraka wata'ala setiap malam turun ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir, lantas Dia berfirman; 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengijabahinya, siapa yang meminta sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya."[21]

Tapi di hadapan akal-akal yang aneh, mereka mempertanyakan banyak hal. “Dengan apa Allah turun ke langit dunia, dengan Dzat-Nya atau Ilmu-Nya? Kalau Allah turun, berarti nanti Dia akan lebih rendah dari makhluk-Nya. Kalau setiap akhir malam Allah turun, lalu saat pagi Dia balik ke atas lagi, berarti kerja-Nya bolak-balik saja, dong? Kan bumi itu bulat, mana atas mana bawah?”

Begitulah, orang-orang ini menikmati sekali hujatan-hujatannya terhadap sebagian Sifat Allah yang Dia ajarkan melalui Sunnah Rasul-Nya. Seakan, ketika mereka telah melontarkan semua pertanyaan-pertanyaan itu, mereka telah menang; mereka telah ngangkangi dunia; mereka merasa puas karena “telah menaklukkan” Allah . Masya Allah, masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semua pikiran-pikiran itu bukan menunjukkan kepintaran, tetapi bukti AROGANSI dan KEPICIKAN !! Apa bedanya pikiran semodel itu dengan perkataan Bani Israil, ketika mereka mengatakan, “Yadullah maghlulah” (Tangan Allah itu terbelenggu). Laa ilaha illa Allah, laa ilaha illa Allah, Maha Suci Allah dari segala kekotoran yang mereka pikirkan.

Bantahan atas pikiran-pikiran kotor itu sederhana saja. Mereka kesulitan mengimani ayat-ayat atau hadits Rasulullah seputar Sifat-sifat Allah , karena: mereka memahami posisi Allah seperti mereka memahami makhluk-Nya. Kalau sebuah benda turun, pasti dia akan lebih rendah dari benda di atasnya. Ini adalah tabi’at makhluk. Kalau benda turun-naik, berarti benda itu selalu bolak-balik. Ini juga tabi’at makhluk. Kalau benda ada di atas bumi yang bulat, berarti sisi atasnya bisa ke segala arah. Lagi-lagi ini adalah sifat makhluk. Kalau benda punya letak (misalnya di langit), berarti dia punya tempat dan volume. Lagi-lagi, wahai Kangmas dan Mbakyu, itu adalah sifat makhluk!

Kalau Allah menciptakan segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah? Untuk kesekian kalinya, suatu eksistensi yang ada karena diciptakan, ia adalah SIFAT MAKHLUK.

Allah tidak punya sifat seperti itu. Dia adalah Rabb, Ilah, Malik, atau Dzat yang memiliki Sifat tersendiri. Bebas dari sifat-sifat makhluk. Apa yang tidak mungkin di tangan makhluk, sangat mudah terjadi pada Allah ; kalau Dia menghendaki hal itu terjadi. Kalau makhluk terjadi selalu karena diciptakan, maka Allah bisa Wujud tanpa mengalami penciptaan. Lho kok bisa begitu? Ya, karena Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Laisa ka mits-lihi syai’un wa huwa sami’ul bashir. Bukankah ayat ini sudah populer dan antum sangat hafal ?

Sebagai Muslim, kita tidak akan ditanya, “Allah ada di dalam ruang atau di luar ruang?” Tidak, demi Allah kita tak akan ditanya seperti itu.

Lalu orang ‘Asy'ariyin ekstrem berkata, “Allah tidak boleh di dalam ruang, karena ruang adalah makhluk-Nya. Allah itu Suci, Dia tak membutuhkan apapun. Allah tidak terikat oleh ruang. Dia bebas mandiri dari unsur makhluk-Nya.”

Sebenarnya, bagi kita semua, apakah Allah ada di dalam ruang atau tidak, TIDAK MASALAH. No problem, anything! Kalau Allah menetapkan diri-Nya dalam ruang, kita mengimaninya. Kalau Allah tetapkan diri-Nya di luar ruang, kita pun akan mengimani-Nya. Apa yang Allah inginkan tentang diri-Nya dengan segala Sifat-Nya, kita imani. Kita akan mengatakan, “Amanna bihi kullun min ‘indi Rabbina” (kami mengimani-nya, semua itu dari sisi Rabb kami)

Jadi dalam hal seperti ini, JANGAN IKUT CAMPUR apa-apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya. Andaikan Allah berada dalam ruang, dan hal itu yang Dia kehendaki; maka sungguh tidak akan berkurang Kesucian-Nya. Andaikan Allah berada di luar ruang, seandainya itu yang Dia inginkan, juga tak akan berkurang Kesucian-Nya. Sebab, Allah sudah Suci sejak sedia kala, tanpa membutuhkan cara-cara kita untuk mensucikan-Nya.

Kalau Allah menggunakan makhluk-Nya untuk suatu keperluan, hal itu tak membuat Allah kehilangan Kesucian-Nya. Jelas-jelas Allah berada di atas Arasy, sedangkan Arasy itu juga makhluk. Lihatlah disana, ada beribu-ribu Malaikat, bahkan jumlahnya tak terhitung, kecuali hanya Allah yang Tahu. Apakah karena “dibantu” para Malaikat, kemudian Dia menjadi tidak Suci? Tidak demikian. Begitu juga, dengan para Nabi dan Rasul. Mengapa bukan Allah saja yang dakwah ke umat manusia, mengapa harus “meminta bantuan” Nabi dan Rasul? Begitu juga, mengapa untuk memberi rizki manusia, Allah mesti “meminta bantuan” angin, tanaman, hewan, sungai, hujan, dan lain-lain?

Subhanallah, Allah tidak tergantung kepada makhluk-Nya, bahkan Dia yang memberi kekuatan, eksistensi, dan manfaat pada makhluk-Nya. Dengan segala Kehendak dan Qudrah-Nya, Allah menjadikan yang mati menjadi hidup, dan yang hidup menjadi mati. Atas segala hal itu, Dia selalu Suci.

Bahkan dalam Surat Al Baqarah ayat 26 disebutkan, bahwa “Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk, atau yang lebih rendah dari itu.” Ayat ini menjadi bukti, bahwa Kesucian Allah tidak ternoda hanya ketika Dia mengambil perumpamaan sebuah makhluk kecil yang bernama nyamuk. Kesucian Allah juga tak ternoda ketika Dia bersumpah dengan makhluk-makhluk-Nya, seperti malam, siang, waktu, matahari, bulan, jiwa, buah tin, buah zaitun, dan lain-lain.

Akan tetapi, akidah Islam ini membawa kita untuk keluar dari semua perdebatan aqliyah. Allah hanya menetapkan, “Diri-Nya bersemayam di atas Arasy.” Artinya, kita tak usah meributkan soal ”dalam ruang” atau “di luar ruang”, sebab penjelasan ayat-ayat Allah itu sudah gamblang: Dia berada di atas Arasy. Disini kita tak perlu memikirkan, apakah Allah ada dalam ruang atau tidak. Karena masalah itu tidak disinggung dalam ayat-Nya atau hadits Nabi .

KAIDAH dasarnya begini:


Saat berbicara tentang Sifat Allah , disana ada Sifat Dzatiyyah (sifat yang terkait dengan Diri Allah ) dan Sifat Fi’liyyah (sifat yang terkait dengan Perbuatan Allah )

Nah, kalau bicara soal Dzatiyyah Allah berlaku kaidah “laisa ka mitslihi syai’un” (tidak ada yang serupa dengan-Nya satu pun). Dalam hal ini, jangan sekali-kali memahami Allah dengan parameter makhluk-Nya; kalau begitu, kita pasti akan tersesat. Kalau bicara tentang Fi’liyyah Allah berlaku prinsip “idza arada syai’an an yaqulu lahu kun fa yakun” (kalau Dia menghendaki sesuatu, Dia tinggal mengatakan ‘kun’, maka jadilah hal itu).

Inti kesalahan orang ‘Asy'ariyyun ekstrem ialah ketika mereka bicara Dzat Allah , mereka serupakan diri-Nya dengan makhluk-Nya; sehingga mereka merasa bahwa dengan keadaan itu Allah menjadi “tidak suci”, sehingga butuh akal-akalan mereka, agar Allah menjadi “suci.”

Sebaliknya, ketika bicara tentang Perbuatan Allah , mereka bebaskan Allah sama sekali dari urusan makhluk-Nya; padahal Allah berhak mengatur makhluk-Nya sekehendak-Nya. Makhluk-Nya mau dibuat hitam atau putih, itu terserah Iradah-Nya.

Betapa agung perkataan Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang Istiwa’. Kata Imam Malik; “Istiwa’ itu sudah maklum, bagaimananya tidak dikenal. Mengimaninya wajib, mempersoalkannya bid’ah.” Ini adalah ungkapan pendek yang meliputi seluruh metode yang dibutuhkan untuk mencapai hakikat keimanan yang lurus terkait Sifat-sifat Allah .

Sungguh, seorang pendosa yang berlumuran dosa, kalau hatinya lurus dalam mengimani Sifat-sifat Allah ini, masih memungkinkan dia akan diampuni. Sebaliknya, seorang alim yang sepanjang waktunya, pagi sampai sore, petang sampai fajar, mengisi hidupnya hanya dengan dzikir sambil bercucuran air mata, sementara hati dan akalnya dipenuhi penyifatan-penyifatan kotor tentang Dzat Allah dan Perbuatan-Nya,seperti kebanyakan orang ‘Asy'ariyyun ekstrem; kelak dia akan berhadapan dengan kesulitan besar di hadapan Allah . Dia akan dituntut atas pelanggaran-pelanggaran terberat menyangkut hak-hak Allah .

Bertaubatlah wahai insan, selama nafasmu masih bisa dipakai bertaubat! Tidak ada yang sulit dari agama ini, kalau hatimu ikhlas. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

والله أعلم بالصواب



Menurut pendapat ketiga, jawabnya adalah bahwa "Allah itu dekat" sebagaimana disebut dalam QS Al-Baqarah 2:186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِ‌يبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْ‌شُدُونَ


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Muhammad bin Jarir dalam Tafsir Tobari, hlm. 3/482, menjelaskan sebab turunnya ayat di atas:

حدثنا الحسن بن يحيى قال : أخبرنا عبد الرزاق قال : أخبرنا جعفر بن سليمان عن عوف عن الحسن قال : سأل أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم النبي صلى الله عليه وسلم : أين ربنا؟ فأنزل الله تعالى ذكره : " وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان " الآية


Abdur Rozzaq bin Hamam Al-Shan'ani dari Jafar bin Sulaiman bin Auf dari Hasan ia berkata: ada seorang Sahabat bertanya pada Rasulullah, "Di mana Tuhan kita?" maka turunlah ayat di atas.

Pendapat ketiga inilah adalah pendapat yang “katanya” paling valid. Intinya adalah bahwa Allah itu ada dan keberadaannya tidak bisa dijelaskan dengan bahasa yang berkonotasi pada arah dan tempat karena Dia tidak sama dengan makhluk-Nya. Adapun hadits yang menyatakan bahwa Allah berada di langit, atau di atas Arasy, atau di langit itu adalah bahasa kiasan yang bermakna Allah itu Maha Luhur atau Maha Tinggi.

والله أعلم بالصواب



Sekali lagi, jika kita termasuk Muslim yang berfikir jernih dengan mengutamakan Al Qur'an, Hadits dan tidak menafikan semua hujjah ulama mujtahid terdahulu yang mumpuni di bidangnya serta tidak menyepelekan kepentingan ukhuwah Islamiyah maka insyaallah kita mampu menarik kesimpulan tanpa harus menyalahkan yang lain dan merasa paling benar, apalagi sampai mengkafirkan satu sama lain. Perlu diingat bahwa salah satu madzhab fiqih yang empat dan di akui oleh semua ulama salaf dan khalaf serta ulama kontemporer yaitu Imam Maliki. Dan bagaimana hujjah beliau dalam masalah ini ???


والله أعلم بالصواب

تسليم الأخوة الإسلام



FootNote:


(1) Al Baijuri, Tuhfatul Murid hal. 38

(2) Dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitabnya al-Farq Bayn al-Firaq, h. 333

(3) Diriwayatkan oleh al-Hafizh az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al-Bayt; keturunan Rasulullah .

(4) Fath al-Bari Bi Syarh Shahih al-Bukhari, j. 3, h. 30, j. 7, h. 124, dan j. 11, h. 505

(5) Daf’u Sybah at-Tasybîh Bi Akaff at-Tanzih, h. 23

(6) Idlah ad-Dalil Bi Qath’i Hujaj Ahl at-Ta’thil, h. 108-109

(7) Lihat al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 3, h. 78, j. 20, 15, j. 12, h. 91, j. 4, h. 217, j. 11, h. 223 dan di banyak halaman lainnya

(8) Lihat dalam Risalah fi Nafy al-Jihah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 9, h. 47. Risalah ini adalah bantahan keras terhadap Ibn Taimiyah yang mengatakan bahwa Allah istawa di atas arsy

(9) Idlah ad-Dalil Fi Qath’i Hujaj Ahl at-Ta’thil, h. 110-111

(10) Tafsir al-Qurthubi, j. 12, h. 91

(11) Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 3, h. 278, dalam QS. al-Baqarah: 255

(12) Ibid, j. 6, h. 399, dalam QS. al-An’am: 18

(13) Ibid, j. 6, h. 390, dalam QS. al-An’am: 3

(14) Ibid, j. 7, h. 148, dalam QS. al-An’am: 158

(15) Ibid, j. 11, h. 333-334, dalam QS. al-Anbiya’: 87

(16) Ibid, j. 20, h. 55, dalam QS. al-Fajr: 22

(17) Ibid, j. 18, h. 216, dalam QS. al-Mulk: 16

(18) HR. Abu Dawud 2856; Ahmad 22645, 22649; Tirmidzi 3034

(19) HR. Abu Dawud no. 4101; Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252

(20) HR. Bukhari dalam Shahih-nya. Kitab Tauhid, Bab Wa Kaana Arsyuhu Alal Ma’i

(21) HR. Bukhari no 1077, 5846; Muslim no 1261; Abu Dawud 4108; Ahmad no 9922



. . . . . . . . .





Back to The Title

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to top